Sabtu, 22 Agustus 2015

Gadis yang Menunggu Itu



Dan seiring langkahku, hujan makin mereda dan bersisa gerimis tepat saat aku menghentikan langkahku tepat didepan Taman. Gadis itu, dia tengah bermain ayunan seraya mengayunkan kakinya bergantian. Kepalanya tertunduk agak dalam, seakan berusaha menyembunyikan kesedihan.


   Aku berjalan perlahan mendekatinya. Sepanjang langkah, mataku tak lepas dari memperhatikannya. Dia tak pernah berubah dan masih sama seperti waktu terakhir bertemu dulu. Masih kuingat, senyumannya yang menyenangkan itu tak pernah muncul lagi sejak tragedi itu.

   Padahal aku sangat merindukan senyuman itu. Entahlah bagaimana mungkin senyum bisa lebih mahal dari apapun.

   “Hai..”

   Dia mendongak terlihat sedikit terkejut, kemudian tersenyum enggan padaku. Mungkin kehadiranku agak menganggu.

   “Boleh aku duduk disini?” Gadis itu hanya mengangguk kecil, seakan mempersilahkan aku untuk duduk. Sambil terduduk , aku melipat payung.

   “Sudah sore, pulang yuk?” ajakku padanya. Gadis itu tersenyum kecut sambil menggeleng.

   “Kau tahu? Aku sedang menunggu. Bagaimana bisa aku pergi?” balasnya agak bergurau diiringi tawa kecil.

    Ah, ya, tentu saja aku tahu. Bahkan aku sudah tahu jauh sebelum diberitahu soal ini. Tapi bagaimana bisa aku membuatnya mengerti kalau dia sedang menunggu sesuatu yang tak akan pernah menghampirinya. Bagaimana caranya aku menjelaskan bahwa menunggu tak sebercanda ini.

   “Dia pasti akan datang! Aku yakin,” seru gadis itu tiba-tiba memecah hening. Seperti tahu apa yang tengah kupikirkan. Ah, dia tetap sama keras kepalanya daridulu.

  “Iya iya. Kuharap juga begitu,” sahutku menoleh. Dan kulihat matanya berbinar menatap langit. Ia tersenyum simpul.

   “Aku harap dia juga sedang melihat langit..”

   “Memangnya kenapa?”

   “Supaya dia merasakan kehadiranku. Karena sejauh apapun jarak memisahkan, kita masih dibawah pelukan langit yang sama. Benar bukan?” Ah, kata-katanya agak membuatku terenyuh.

    “Itulah kenapa aku suka melihat langit setiap rindu dia. Karena hatiku jadi lega kalau sudah melihat langit. Kadang-kadang, aku ingin hatiku bisa selapang langit,” tambahnya lagi.

   Tak lama berselang, gerimis kembali turun.

   “Oiya, yang paling aku suka dari langit adalah dia selalu mampu mewakilkan perasaanku!” lanjutnya lagi setengah bercanda. Gadis itu tertawa kecil lalu meloncat dari ayunan dan menari berputar-putar dihadapanku. Tangannya menengadah mengumpulkan rintik-rintik air. Begitu cukup air terkumpul dia akan menebarkannya. Sesekali dia tersenyum sambil mengajakku ikut serta tapi aku enggan. Lalu dia bermain lagi.

   Aku tahu, dia hanya berusaha terlihat baik-baik saja dengan pura-pura gembira dihadapanku. Kenyataan yang sebenarnya adalah, dia sedang menyembunyikan kesedihan-kesedihannya dariku.

   “Sebentar lagi mahgrib, kamu gak pulang?” tanyanya berhenti bermain lalu duduk manis di ayunan.

   “Ya, ini mau pulang,” jawabku seraya beranjak.

   “Baiklah, hati-hati dijalan. Besok lagi kalau ada waktu luang, temani aku seperti sore ini lagi ya!” Mata gadis itu menyipit dan senyum merekah diwajahnya. Sedang aku hanya mengangguk mengiyakan.

   Ah, gadis ini cantik. Tapi sedikit bodoh. Mau sampai kapan ia lari dari kenyataan, bahwa kekasihnya itu tak akan mencarinya lagi.

   Kamu ingat kecelakaan tiga bulan lalu? Kamu sendiri adalah korbannya yang tewas dalam perjalanan ke rumahsakit.

   

0 komentar:

Posting Komentar

 

dindadennis Template by Ipietoon Cute Blog Design